Halo guys. Sudah lama aku tidak menulis blog. Tadinya aku berpikir untuk berhenti menulis, tapi setelah dipikir ulang ternyata menulis ada serunya juga. Bukan saat menulis, tapi saat setelah beberapa bulan atau tahun menulis kemudian membaca-baca tulisan kita sendiri. Jadi, mari kita lanjutkan!

Ketika aku melakukan internship ini, aku adalah seorang mahasiswa semester 7 di Departemen Fisika ITB. Setiap tahunnya, Departemen Fisika ITB bekerja sama dengan Departemen Fisika KAIST (Korea Advanced Institute of Technology) untuk mengirimkan mahasiswa ke KAIST melakukan research internship. Seluruh biaya mulai dari transportasi, uang saku selama di sana ditanggung oleh departemen fisika KAIST. Tujuan utama dari program ini sebenarnya adalah mencari calon mahasiswa-mahasiswa baru dari perguruan terbaik di Indonesia untuk melanjutkan studi di KAIST. Program ini sudah dimulai sejak sekitar 10 tahun lalu. Jumlah mahasiswa yang dikirim awalnya puluhan, tapi seiring waktu jumlah mahasiswa yang dikirim berkurang. Tahun 2017, ada 7 orang yang dikirim. Tahun 2018, ada 5 orang yang dikirim. Tahun 2019 ketika aku melakukan internship, hanya ada 4 orang yang dikirim.

Untuk memperoleh kesempatan internship ini, seleksi dilakukan oleh departemen Fisika ITB. Calon peserta diminta untuk mengirimkan CV, transkrip, serta visit plan selama di KAIST. Sejauh yang aku tahu, pada akhirnya departemen fisika ITB hanya menyeleksi berdasarkan transkrip (IPK) saja. Singkat cerita, pada akhirnya aku memperoleh kesempatan untuk internship ini bersama dengan Hammam, Citop, dan Fio. Kami memperoleh funding dari departemen Fisika KAIST sebesar 320.000 KRW untuk tiket pesawat dan 400.000 KRW/bulan untuk biaya hidup selama di sana. Saat itu, 1 KRW berada di angka sekitar 12 rupiah. Jadi kalau dirupiahkan, total bantuan yang kami peroleh sekitar Rp13.440.000, mantap. Walau begitu, tetap saja biaya ini kurang untuk membeli tiket pesawat kami yang pulang pergi waktu itu sekitar Rp7.000.000, padahal itu sudah mengambil pesawat Air Asia dengan transit yang lama (9 jam!). Untungnya, kaprodi fisika ITB menyampaikan bahwa akan ada bantuan dari fakultas MIPA ITB (yang entah kapan akan cair, sampai sekarang belum cair wkwk).

Yang sedikit menjadi masalah adalah mengenai surat penerimaan dari KAIST, belum keluar secara resmi hingga sekitar akhir September padahal keberangkatan adalah sekitar tanggal 8 Oktober 2019. Oleh karena itu, kami cukup gigit jari menunggu penerbitan visa yang memerlukan surat penerimaan tersebut sebagai salah satu syarat. Pada akhirnya, kami tiba di KAIST pada tanggal 10 Oktober 2019. Sebenarnya agak menantang karena dari kami berempat tidak ada yang bisa bahasa Korea, dan pengendara taxi di Korea juga kurang mengerti bahasa Inggris. Dari bandara, kami menggunakan bus bandara untuk ke kota Daejon dan lanjut menggunakan taxi. 

Kami tiba pada saat sedang musim gugur, sehingga suhunya cukup dingin (selalu di bawah 15 derajat Celcius). Sampai di KAIST, kami pergi menuju ruangan TU gedung departemen Fisika di mana menurut e-mail kami diminta untuk bertemu dengan Se Yeon Kim, orang yang menjadi penanggung jawab kami secara administratif di sana. Begitu sampai di sana, aku baru sadar aku telah melakukan kesalahan yang bodoh. Kami menyampaikan bahwa kami kurang lebih akan tiba pukul 3 sore, tapi seenaknya masuk  ke gedung departemen fisika pada pukul 2 siang di saat petugas belum semuanya siap. Jadi mereka langsung buru-buru menyiapkan ruangan dan membelikan makanan siang untuk kami. Ckck, bodoh sekali wkwk. 

Setelah acara penyambutan yang sederhana, kami dipertemukan dengan teaching assistant dari lab kami masing-masing. Teaching assistantku adalah Dae Gwang Choi, seorang mahasiswa program integrasi master-doktor yang sudah 5 tahun berada di lab tersebut. Ia baik sekali. Setelah acara penyambutan selesai, ia langsung mengajakku ke kafe terdekat di mana aku ditraktir minuman dan makanan lalu diajak mengobrol-ngobrol termasuk soal riset yang ingin dilakukan. Ia lalu mengantarku ke dorm tempat aku akan tinggal selama 2 bulan ke depan. Lab yang aku pilih sebagai tempat melakukan reserach internship adalah lab quantum and nanobio photonic laboratory di bawah bimbingan Prof. Yong Hoon Cho. Aku memilihnya karena topiknya mengenai material dan kakak-kakak tingkatku di labku di ITB sebelumnya juga memilihnya sebagai supervisor saat internship di KAIST. 



Foto di gerbang utama KAIST


Surat penerimaan resmi dari departemen fisika KAIST dan dari Prof. Yong Hoon Cho.


Saat itu, kami tiba di hari Jumat. Kami akan memulai hari pertama internship kami di hari Senin, sehingga kami punya dua hari kosong untuk menjelajahi KAIST. Saat itu, aku memiliki kesan yang sangat tidak terlupakan. Sejujurnya, ini adalah peratma kalinya aku menginjakkan kaki di negara maju selain Singapura sekitar 7 tahun lalu. Sehingga, aku baru benar-benar menyadari seberapa berbeda negara berkembang dan negara maju. Dimulai dari fasilitas. Di bandara, kami dapat dilayani oleh robot pelayan yang dapat memberi tahu kami di mana letak toilet, di mana letak pintu keluar, dan di mana kami bisa memperoleh bus bandara. Lalu, fasilitas bangunan secara umum yang juga sangat keren. Dari lampu yang hampir semuanya tidak dinyalakan dengan saklar tapi dengan sensor otomatis. Jika ada orang melewati lorong, maka lampu akan nyala secara otomatis.

Selain itu, toiletnya pun juga sangat canggih. Toilet duduk yang ada di gedung memiliki banyak sekali tombol mulai dari bidet, suhu dudukan, posisi bidet, kekuatan semprotan, dan banyak sekali. Sialnya, semua itu dalam bahasa Korea sehingga aku perlu mencoba satu-satu. Oke, kembali lagi ke program internship. Singkat cerita, tidak ada topik yang ditawarkan oleh Daegwang yang membuatku benar-benar tertarik karena aku tidak begitu tertarik dengan fotonik. Namun, pada akhirnya aku memilih topik meningkatkan suatu algoritma beam shaping untuk membuat gambar yang lebih baik dengan SLM, menggunakan matlab. Di lab terdapat setup alatnya, dan tugasku adalah mengembangkan algoritma IFTA yang digunakan supaya bisa menghasilkan solusi yang lebih baik dan gambar yang pada akhirnya lebih baik.


Foto setup alat beam shaping dengan SLM

Selain melakukan internship di lab, kami juga berkesempatan untuk berkenalan dan berteman dengan komunitas mahasiswa Indonesia yang ada di KAIST yaitu KAIST-INA. Beruntung sekali, kami bertemu dengan dua orang yang sangat banyak membantu kami selama di Korea yaitu Mas Teguh dan Mas Pras, yang merupakan alumni S1 ITB dan sedang melakukan studi S2 di KAIST. Banyak sekali anggota KAIST-INA yang merupakan alumni ITB, mungkin karena bisa dibilang KAIST adalah salah satu institut sains dan teknologi terbaik di Korea. Sama saja seperti ITB, yang merupakan salah satu institut sains dan teknologi terbaik di Indonesia.


Untuk kerja lab sendiri, aku merasakan atmosfer yang sangat berbeda dengan di Indonesia. Di Indonesia, kalau kita sedang bekerja di dalam lab, tidak jarang kita membuang waktu dengan bermain handphone, mengobrol bahkan menggosip hingga tertawa terbahak-bahak dengan teman-teman lab. Namun, tidak untuk lab di KAIST. Di sini, ketika orang berada di lab, orang seolah-olah sedang berada di warnet yang menggunakan headphone. Orang dengan dunianya masing-masing, dan hanya bicara ketika hendak berdiskusi sesuatu yang berkaitan dengan lab. Selain itu, waktu kerja yang biasa di lab juga cukup gila. Orang biasa berada di lab mulai dari sekitar jam 10 pagi, dan pulang setelah jam 9 malam. Begitu setiap hari.

Namun begitu, bukan berarti orang-orang di Korea tidak bisa bercanda ataupun mengobrol mengenai topik di luar urusan laboratorium. Ketika istirahat makan siang ataupun dinner, orang-orang lab biasa makan bersama di kantin dan mengobrol seperti mahasiswa Indonesia biasanya. Tertawa terbahak-bahak, dan mengobrol hal-hal yang tidak penting. Seolah, mereka adalah dua orang yang berbeda ketika berada di lab dan berada di kantin saat istirahat. Kemudian, untuk labku selalu ada jalan-jalan setiap 1 semester. Saat aku sedang internship, aku beruntung karena mendapatkan kesempatan untuk jalan-jalan tersebut. Dan uniknya, professor Cho juga ikut serta dalam jalan-jalan tersebut yaitu ke gunung (yang aku sudah lupa namanya). Kami berangkat dengan mobil anggota lab, dan aku juga ikut serta dengan mobil Ki Young. 


Foto lab ketika jalan-jalan ke gunung.

Setelah jalan-jalan ke gunung, professor menraktir kami makan malam di tempat makan di bawah gunung. Lalu, beliau mengajak kami untuk minum-minum bersama di pub. Karena aku seorang muslim, aku tidak minum bir. Namun, hal tersebut tidak menjadi masalah dan aku sama sekali tidak merasa dipaksa atau tidak dihargai. Professor dan teman-teman lab membebaskanku untuk ikut minum ataupun tidak. Pada akhirnya, aku ikut ke pub tapi tidak minum, hanya bermain fusball dan game lain bersama mereka di pub.

Selain diajak jalan-jalan oleh lab, kami juga beruntung karena sering kali diajak bermain bersama anak-anak KAIST-INA. Selain dikenalkan kuliner dan tempat-tempat di Daejon, kami juga diajak naik gunung oleh mereka. Walaupun di tengah perjalanan kami menemukan musibah yaitu tersesat dan perlu meminta bantuan 911, aku merasa senang karena mendapatkan pengalaman yang tidak terlupakan. 

Foto jalan-jalan di Daedunsan bersama KAIST-INA (Mas Teguh dan Taufik)


Untuk kegiatan research internship sendiri, aku tidak diberi jam kerja yang kaku oleh Professor Cho ataupun Dae Gwang. Yang penting, aku bisa memunculkan solusi baru untuk mengembangkan algoritma beam shaping yang telah diberikan. Namun, by default aku mengikuti jam masuk lab yaitu jam 10 pagi. Aku pernah mencoba mengikuti kebiasaan mereka yaitu pulang setelah jam 9 malam, tapi ternyata aku tidak kuat. Aku seringkali pulang dari lab ketika sudah maghrib. Kegiatanku di lab yang terkait dengan research internship ini hanyalah berkutat dengan laptop, mengembangkan algoritma. Namun begitu, aku sangat mensyukuri fasilitas yang diberikan. 

Dari hari pertama awal aku melakukan internship, Daegwang mengatakan jika ada apapun yang diperlukan olehku, aku tinggal bilang. Ternyata dia tidak main-main. Aku bebas mengeprint apapun yang ingin aku baca ratusan halaman per minggunya. Selain itu, aku meminta monitor sehingga software-software yang bisa kupantau saat mengoperasikan komputer lebih banyak. Lab ternyata benar-benar mengabulkan permintaanku dengan memberiku monitor komputer.

Lebih dari itu, terlepas dari topik research yang aku lakukan, aku tertarik untuk mencoba masuk ke dalam clean room. Clean room adalah sebuah ruangan yang sangat bersih, dengan jumlah partikel di bawah ukuran 1 mikron per volume udara dibatasi. Clean room biasa dipakai untuk fabrikasi material semikonduktor, mengoperasikan maskaligner dan fotolitografi. Saat aku melakukan internship (November 2019) Indonesia sama sekali belum memiliki clean room dan ruangan itu hanyalah sesuatu yang hanya bisa kutemui di buku saja. Namun, aku sangat bersyukur karena Professor memberiku kesempatan untuk masuk ke clean room dan diberi kesempatan handson untuk melakukan fotolitografi.

Untuk progress internship sendiri, aku diwajibkan untuk presentasi tiap Jumat malam bersama dengan labmeeting member-membernya. Jadi, setiap hari Jumat jam 6 sore kami melakukan dinner lab bersama (dibayari lab) yang kemudian dilanjutkan oleh labmeeting. Terdapat 3-4 orang presenter dari lab setiap harinya dan ditambah aku sebagai intern. Lalu, untuk program research internship yang kujalani sendiri, terdapat dua buah presentasi besar yaitu mid dan final presentation. Kedua presentasi tersebut dinilai oleh professor-professor dari KAIST. Setelah final presentation, KAIST memberikan penghargaan best presentation dan alhamdulillah aku mendapatkan penghargaan tersebut. Mereka memberikan powerbank dan filter pembersih udara sebagai hadiah untukku. Bagi yang tertarik melihat penelitian yang aku lakukan, silakan download laporan internshipku di sini. 



Foto saat presentasi dan menerima penghargaan

Singkat cerita, kegiatan internship kami berakhir pada tanggal 8 Desember 2019 dan kami kembali ke Indonesia dengan selamat. Ketika aku hendak pergi dari lab, tidak disangka teman-teman labku yang "sangat serius di lab" itu memberikanku banyak buah tangan. Ada yang memberi manisan, ada yang memberi teh korea, dan ada yang memberi mug. Alhamdulillah. Bagiku, pengalaman research internship ini merupakan sebuah pengalaman internasional yang sangat positif. 

Setelah mengikuti internship ini, aku menjadi sedikit lebih terbuka mengenai dunia, bahwa dunia tidak sesempit Indonesia saja. Di belahan dunia lain bernama Korea, terdapat orang-orang dengan budaya, kebiasaan, dan makanan yang berbeda. Etos kerja mereka sangat kuat, dengan kebiasaan bekerja dari jam 10 pagi hingga minimal jam 9 malam. Mereka juga tidak main-main saat bekerja, mereka sangat serius. Namun begitu, bukan berarti mereka tidak tertawa bersama teman ataupun tidak piknik.

Kemudian, satu hal yang bagiku sangat tidak terlupakan di Korea adalah sebuah pengalaman saat aku sedang jalan-jalan bersama teman-teman ke sebuah taman ilalang pink. Di sana, terdapat Bapak-Bapak yang sedang jalan-jalan bersama anjingnya. Kemudian, anjing tersebut membuang kotoran di taman tersebut. Hal yang membuatku sangat shock adalah, Bapak itu mengambilnya dan membuangnya ke tempat sampah.

Ya, kotoran anjing tersebut. Diambil dan dibuang ke tempat sampah. 

Ternyata pandanganku soal negara maju sampai saat ini kurang tepat. Selama ini aku selalu memandang perbedaan utama negara maju dan berkembang adalah soal teknologinya dan tingkat kesejahteraannya. Ternyata, satu perbedaan yang juga sangat ketara adalah soal manusianya. Bukan soal kepintaran atau soal bakat. Orang di negara maju, mereka sangat menjaga kebersihan. 

1 comments

betturkey girişFebruary 13, 2023 at 9:34 PM

betmatik kralbet betpark tipobet slot siteleri kibris bahis siteleri poker siteleri bonus veren siteler mobil ödeme bahis İOW5