![]() |
Di Asia, terdapat setidaknya tiga negara yang menurutku merupakan negara maju yaitu Singapura, Korea, dan Jepang. Alhamdulillah, tahun 2011 pernah ke Singapura, tahun 2019 kemarin internship ke Korea, dan awal tahun 2020 ini dapet kesempatan ke Jepang. Alhamdulillah. Awalnya, cuma dapat info dari grup angkatan mengenai ada program sakura science plan di Jepang selama 7 hari 6 malam. Kalau dari selebaran info tersebut, deskripsi program ini adalah:
The program aims to provide an actual research workshop experience for excellent students who have
the passion for research and would like to further develop their academic and research competitiveness.
Students can obtain basic knowledge of advanced researches like computational materials design for
environment friendly technology applications through workshops and laboratory tour.
Tbh, aku tidak setertarik itu dengan programnya. No, I am not saying that this program is trash. Bukan begitu. Aku juga bukan mengatakan kalau aku tidak tertarik mengetahui tentang informasi riset di universitas Jepang, dan info mengenai master / dokter di sana. Namun, alasan aku ikut program ini yang utama adalah, ada kesempatan untuk ke Jepang secara fully funded. Sesederhana memiliki alasan itu, aku mendaftar.
Waktu itu, persyaratan berkas yang diminta untuk dikirim hanya dua: formulir pendaftaran yang diisi dan transkrip akademik. Beruntung, aku termasuk orang dengan IPK tinggi (3.92) sehingga dengan mudah 3 hari kemudian aku dikirimi email yang menyatakan aku diterima. Bahkan, aku ditawari untuk ikut program 3 bulan stay sebagai research intern di sana (yang kemudian aku tolak karena aku sedang tugas akhir). Aku tidak mengatakan bahwa IPK adalah segalanya, tapi aku merasakan sendiri, dengan IPK tinggi, ada beberapa kesempatan yang bisa dengan mudah kita peroleh. Kesempatan exchange ke luar negeri, dan di dunia kerja nanti, aku merasa IPK tinggi juga sangat membantu kalau mau masuk ke perusahaan multinasional besar.
Menurutku, panitia penyelenggaranya sangat professional. Informasi mengenai program, susunan acara, tempat tinggal, orang yang akan kutemui di bandara Jepang, asuransi yang diberikan, uang saku yang diberikan, cara mendaftar visa, semua diberikan secara detail. Tiket pesawat pun langsung dibelikan oleh panitia, dan alhamdulillah aku mendapat pesawat garuda baik berangkat maupun pulang. Berangkatnya direct dari Jakarta, pulangnya hanya transit di Bali selama 1 jam. Mengurus visanya pun juga sangat mudah. Aku hanya membawa surat sakti yang sudah dikirimkan ke kosku dari Jepang, dan aku bisa mendaftar visa di antrian khusus di kedutaan Jepang di Jakarta.
Waktu itu, total peserta program ada 6 orang. 2 dari Indonesia, dan 4 dari Thailand. Aku berkenalan dengan peserta Indonesia yang satunya, Diana, di bandara CGK Jakarta. Dia juga kuliah di ITB, jurusan Teknik Fisika. Kemudian, 4 orang dari Thailand aku temui di bandara Kansai, Osaka. Mereka berasal dari jurusan teknik kimia, kimia, dan fisika. Kami berenam dijemput oleh Kak Eka, mahasiswa doktor dari Osaka University, program QEDC (Quantum Engineering Design Course). QEDC ini ialah program yang akan dikenalkan kepada kami, dan penanggung jawab program ini adalah Profesor Morikawa, yang merupakan salah satu kepala lab program QEDC tersebut.
Tujuan dari program ini, yang aku tangkap, ialah mengenalkan riset dan universitas mereka kepada mahasiswa-mahasiswa terbaik dari negara berkembang, selain juga mengenalkan Jepang kepada negara-negara lain. Harapannya ialah menarik minat sehingga kemudian mahasiswa ini melanjutkan studi di sana. Oleh karenanya, dari 7 hari program tersebut memang 4 hari full merupakan program terkait dengan workshop riset. Aku akan coba cerita dari hari ke hari.
Hari pertama adalah kedatangan dan istirahat di dorm. Setelah sampai di bandara Kansai dan dijemput Kak Eka, kami naik kereta ke Osaka University. Ya, memang salah satu transportasi utama di Jepang ialah kereta. Pembayaran umumnya dilakukan dengan kartu, tetapi karena aku belum tahu saat itu aku malah menggunakan cash di awal. Tidak efisien. Begitu sampai di bandara Jepang, kesan pertamaku adalah, semua orang berjalan sangat cepat! Orang sangat menghargai waktu di sini. Semua orang seolah memiliki hal penting yang akan mereka kerjakan.
Kami juga mengobrol banyak dengan Kak Eka, dia mengenalkan tentang Jepang, Osaka, universitasnya, dan program doktor yang ia jalani. Dia bercerita tentang satu budaya yang sangat berbeda dengan Indonesia ialah soal mempersilakan orang tua untuk duduk. Ia bercerita pengalamannya memberikan tempat duduknya di kereta kepada seorang nenek-nenek yang berdiri karena tidak ada kursi. Namun, yang terjadi adalah nenek-nenek tersebut duduk dan termenung. Ia menahan nangis. Lalu, di terminal berikutnya ia langsung keluar dari kereta. Baru kemudian Kak Eka menyadari bahwa hal tersebut menyinggung nenek-nenek itu. Ia bukannya merasa dituakan, tapi ia merasa dianggap selemah itu. Ia merasa terhina dengan dipersilakan duduk.
Turun dari stasiun, jalan kaki yang dilakukan untuk sampai ke Osaka University cukup jauh. Aku pikir sekitar 2 km, membawa koper dan kecepatan jalan di atas 6 km/jam. Kami langsung terpaksa mengikuti kecepatan berjalan Kak Eka yang sudah sama dengan kecepatan berjalan orang Jepang. Sampai kampus, kami menuju ke lab QEDC dan bertemu Professor Morikawa. Ia sangat ramah dan rendah hati. Terlepas dari ia merupakan profesor dengan kedudukan tinggi di universitas, menurutku ia sangat welcome dan sangat ramah, membuatkan kami teh sendiri tanpa menyuruh mahasiswa ataupun pelayan. Singkat cerita, kami berkenalan, dikenalkan sekilas, diberi uang saku selama di Jepang, lalu dibebaskan untuk istirahat di dorm.
Hari kedua, kami dikenalkan lebih detail dan lebih formal mengenai program QEDC, Osaka University, dan kami diberikan tour lab. Sejujurnya, aku tidak begitu paham dengan pengenalan lab yang diberikan karena topik riset yang dilakukan menurutku sangatlah advanced. Namun begitu, beberapa hal yang aku tangkap jelas adalah bahwa peralatan di sana sangatlah lengkap. Mulai dari clean room, alat-alat sintesis material, alat-alat karakterisasi seperti SEM, TEM, XRD, bahkan XPS aku lihat bebas digunakan di sana. Berbeda dengan di ITB, yang salah satu institut sains terbaik di Indonesia, aku merasa cukup kurang efisien proses karakterisasi. Harus menunggu minimal 1 minggu lah, apa lah.
Dan aku melihat mahasiswa di Jepang, di Osaka University, sangatlah rajin dan determined. Mereka tidak terlihat memiliki kecerdasan yang jauh di atas kita atau memiliki bakat yang tidak dimiliki oleh orang Indonesia, tetapi ketika mereka mengenalkan lab mereka, menjelaskan penelitian mereka, aku merasakan bahwa mereka menghabiskan waktu yang tidak sedikit di lab, melakukan pekerjaan mereka sebagai mahasiswa untuk meneliti. Bahasa Inggris mereka juga menurutku tidak lebih baik daripada bahasa Inggris kita di Indonesia. Aku yang bisa menonton film luar negeri tanpa subtitle pun terkadang sulit memahami apa yang berusaha ia sampaikan. Namun begitu, tidak bisa kupungkiri bahwa mereka berusaha menjelaskan dengan serius. Satu lagi kualitas yang menurutku membedakan Indonesia dengan Jepang. Menurutku, orang Indonesia bukan kalah pintar atau apa, hanya yang aku lihat ialah sudah merasa rendah duluan. Sering kita dengar di sekitar kita,
"Ah tidak mungkin lah bisa ikutan exchange. Toh bahasa Inggrisku jelek."
"Ah mana mungkin bisa master. Pasti yang jadi mahasiswa master itu yang harus jenius."
"Ah mana mungkin bisa master. Pasti yang jadi mahasiswa master itu yang harus jenius."
Well, menurutku setelah melihat mereka, orang-orang yang bisa masuk ke dalam jenjang master dan doktor di sebuah universitas besar bukanlah mereka yang bahasa Inggrisnya paling bagus atau paling jenius. Mereka adalah yang orang yang sesimpel punya tekad kuat untuk melanjutkan ke jenjang master atau doktor. Sisanya tinggal dijalani, seperti belajar dan riset dengan giat.
Hari ketiga dan keempat ialah QEDC workshop. Mahasiwa-mahasiswa master dan doktor di QEDC mempresentasikan progress mereka di depan profesor-profesor dan mahasiswa-mahasiswa lain di sebuah ruangan konferensi besar. Ada juga mahasiswa master dan doktor yang menjalani thesis defense atau sidang. Suasananya jelas, sangat tegang. Ada mahasiswa yang menurutku presentasinya sangat bagus, ada yang menurutku biasa saja, dan ada yang menurutku jelas sangat kurang persiapan. Dan jelas, profesor-profesor di sana sangat "membantai" yang jelas kurang persiapan. Tapi, menurutku topik-topik riset yang dilakukan mahasiswa di sana sangat menarik. Umumnya mereka menggunakan metode first principle seperti utamanya DFT (Density Functional Theory) untuk memprediksi karakteristik suatu material baru yang belum diketahui dari eksperimen.
Hari kelima adalah hari tour ke Kyoto yang diadakan oleh penyelenggara, menggunakan minibus. Drivernya sangat ramah dan profesional. Menggunakan jas dan sepatu, sedia payung ketika hujan, dan jelas, membukan pintu untuk masuk dan keluar serta membawakan bawaan. Lagi-lagi, aku benar-benar kagum dengan etos kerja orang Jepang. Sangat totalitas dalam mengerjakan sesuatu. Jalan-jalan dipandu oleh Sakai San dan mahasiswi master di QEDC. Selain jalan-jalan dari program, aku dan peserta lain juga suka jalan-jalan sendiri saat malam hari ke tempat-tempat seperti Dottonburi dan berbagai situs turis lainnya. Terakhir, hari keenam adalah talkshow dan ngobrol santai bersama Prof. Morikawa dan mahasiswa-mahasiswa QEDC.
Kesanku mengikuti program ini ialah, tidak bisa dipungkiri bahwa orang Jepang benar-benar memiliki profesionalitas dan etos kerja yang sangat baik. Dari caranya memberikan detail program melalui email, penyambutan mereka, atmosfer kerja di kampus, semuanya sangatlah keren. Yang membuatku paling shocked adalah saat kepulangan. Untuk ke bandara Kansai, yang mengantar kami adalah Prof. Morikawanya sendiri!! Ya, orang dengan kedudukan paling tinggi di lab, sang penanggung jawab program, professor yang dihormati oleh seluruh mahasiswanya, beliau sendirilah yang mengantar kami dengan mobil pribadinya. Plus, dia menjemput kami tepat waktu sesuai yang ia katakan yaitu pukul 5 pagi! Aku benar-benar menjadi malu.
Sejak mengikuti program ini, aku mungkin belum memiliki minat untuk melanjutkan master atau doktor ke Jepang. Namun begitu, aku belajar 2 hal yang sangat penting. Yang pertama adalah profesionalitas dan totalitas dalam mengerjakan sesuatu itu lebih penting daripada sekedar kepintaran atau kemampuan bahasa Inggris kita. Yang kedua adalah, bahwa ketika kita sudah memiliki jabatan tinggi, kita justru jauh lebih keren ketika kita tetap rendah hati dan melayani tamu kita sebaik mungkin. Aku merasa beruntung mengikuti program ini. Aku lebih mengenal mengenai kehidupan master dan doktor, mengenal program QEDC dan Osaka University, dan yang terpenting adalah aku mendapatkan pelajaran yang tak terhingga nilainya.
Untuk Prof. Morikawa dan siapapun yang menyelenggarakan program Sakura Science Plan ini, aku mengucapkan banyak terima kasih. Aku mendapatkan pelajaran yang tak terhingga nilainya.
Foto-foto:




















