Energi adalah hal yang sangat penting dalam suatu negara. Transportasi, industri, peralatan rumah tangga, semuanya membutuhkan energi. Bahkan, konsumsi energi per kapita suatu negara dapat dijadikan salah satu ukuran seberapa maju negara tersebut (Smetz, 2016 : 7). Masalah terbesar dunia dalam bidang energi adalah sumber utamanya berupa bahan bakar fosil seperti minyak, batu bara, dan gas alam. Bahan bakar fosil akan habis suatu saat karena konsumsi manusia jauh lebih besar daripada produksi bahan bakar fosil secara alami. Selain itu, bahan bakar fosil menghasilkan karbon dioksida, salah satu gas rumah kaca yang mengakibatkan pemanasan global. Pemanasan global menimbulkan masalah seperti naiknya permukaan laut yang mengakibatkan tenggelamnya pemukiman di dataran rendah, berubahnya cuaca yang mengacaukan pertanian, serta ekosistem pantai yang terganggu (Foley G. 1990).

Sumber: beritaterkini.id
Solusi yang paling masuk akal adalah energi terbarukan yang ramah lingkungan. Kita perlu sumber energi yang tidak akan habis dan juga tidak menimbulkan pemanasan global. Beberapa energi terbarukan yang paling umum adalah energi air, angin, matahari, panas bumi, dan biomassa. Indonesia yang juga bergantung pada bahan bakar fosil juga memiliki masalah lain, yaitu belum tersedianya energi listrik secara merata di seluruh daerah Indonesia. Pertanyaannya adalah sumber energi mana yang paling baik dan cocok untuk Indonesia?
Perbandingan Energi-Energi Terbarukan di Indonesia
Indonesia adalah negara kepulauan yang berada di daerah khatulistiwa dan memiliki sumber daya alam yang melimpah. Hal pertama yang perlu disadari adalah karena Indonesia negara kepulauan, tidak mungkin menggunakan satu sumber energi yang terpusat di satu tempat dan ditransmisikan ke seluruh daerah Indonesia. Perlu adanya sumber energi yang secara efisien dapat digunakan juga oleh daerah-daerah terpencil. Karena berada di daerah khatulistiwa, Indonesia memiliki iklim tropis yang disinari matahari sepanjang tahun. Energi matahari yang diterima Indonesia rata-rata 4,8 kWh/m2 per harinya, tentu jauh lebih banyak dibanding Amerika yang hanya 2,9 kWh/m2 per harinya pada musim dingin (Janaloka, 2015). Namun begitu, Amerika semakin hari semakin mengembangkan energi surya sebagai sumber energi terbarukan. Lebih dari 14.000 MW panel surya terinstall di Amerika pada tahun 2016, hampir dua kali lipat dari tahun 2015 yang hanya sekitar 7.000 MW (SEIA/GTM Research, 2016). Jadi, sudah sepantasnya kita mempertimbangkan energi surya sebagai sumber energi utama Indonesia di masa depan. Mari coba bandingkan energi surya dengan energi-energi terbarukan yang lain.
Yang pertama adalah energi air. Air merupakan sumber energi terbarukan yang lumayan sering digunakan, menyumbang sekitar 16% energi listrik dunia (Vries, 2010 : 48). Yang perlu diperhatikan adalah tidak semua daerah di Indonesia dekat dengan sungai yang mengalir deras dan sungai yang mengalir deras tak selalu berada di dekat pemukiman. Untuk itu, dibutuhkan biaya infrastruktur dan perawatan berkala untuk mentransmisikan energi dari Pembangkit Listrik Tenaga Air yang jauh (Vries, 2010 : 58-59). Akibatnya, energi air ini tidak efektif untuk membangun sumber energi yang merata ke seluruh daerah di Indonesia. Yang kedua adalah energi angin. Mirip dengan energi air, energi angin ini hanya dapat dimanfaatkan secara efektif untuk daerah yang memiliki angin yang bertiup kencang dan stabil (Santosa, 2016). Selain itu, ada beberapa masalah lain. Yang pertama, pembangunan PLTB (Pembangkit Listrik Tenaga Bayu/Angin) membutuhkan lahan yang luas sehingga tidak memungkinkan untuk membangun PLTB di daerah perkotaan yang padat penduduk. Ditambah lagi, prinsip utama PLTB adalah menggerakkan turbin dengan angin. Akibatnya, suaranya bising dan membutuhkan perawatan secara berkala jika rusak karena angin yang terlalu kencang, petir, atau karena ada burung yang tekena turbin dan tersangkut di sana (Vries, 2010 : 40).
Di lain pihak, PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) dapat dipasang di atas atap rumah-rumah yang bahkan padat penduduk. Tidak dibutuhkan infrastuktur untuk mengalirkan listrik pada jarak jauh sehingga bisa menjangkau daerah-daerah terpencil sekalipun. Kemudian, berbeda dengan PLTB yang membutuhkan perawatan berkala, panel surya ini tidak membutuhkan perawatan semacam itu dan juga tidak menimbulkan suara yang bising.
Energi terbarukan berikutnya adalah biomassa. Biomassa adalah energi yang berasal dari makhluk hidup seperti tumbuhan atau hewan yang sudah mati maupun limbah-limbah pabrik seperti pabrik kertas yang menyisakan kayu (Vries, 2010 : 62). Ada juga biodiesel yaitu cairan bahan bakar dari tanaman seperti jarak dan kelapa sawit (Vries, 2010 : 80). Lalu, ada biogas yang diproduksi dari kotoran-kotoran hewan. Namun, ada satu masalah dari sumber energi ini. Ia menghasilkan gas buang berupa karbon dioksida (Fanny et al., 2016). Padahal, sudah dibahas bahwa sumber energi terbarukan yang diinginkan adalah yang juga ramah lingkungan. Jadi, jelas bahwa biomassa bukan merupakan sumber energi yang terbaik untuk bumi kita.
Sumber energi terbarukan yang cukup menarik untuk dibahas adalah panas bumi. Uap air yang dihasilkan oleh panas bumi dapat menggerakkan turbin sehingga menghasilkan listrik (Fanny et al., 2016). Energi ini ramah lingkungan karena tidak menghasilkan karbondioksida. Indonesia memiliki potensi yang sangat besar di sini. Empat puluh persen dari sumber panas bumi dunia berada di Indonesia (Fanny et al., 2016). Merupakan angka yang sangat besar mengingat Indonesia hanyalah suatu negara kecil di bumi ini. Namun, seperti yang terlihat pada gambar di bawah, tidak semua daerah di Indonesia memiliki potensi panas bumi.

(Fanny et al., 2016)
Jika berfokus menggunakan energi panas bumi yang melimpah di Indonesia, mungkin Indonesia dapat mengatasi permasalahan ketergantungan terhadap energi fosil. Namun, untuk jangka panjang, hal ini tidak baik karena akan semakin terasa ketimpangan di antara daerah-daerah di Indonesia. Daerah yang memiliki sumber energi panas bumi ini akan semakin maju dengan pesat, tetapi daerah yang bukan sumber panas bumi akan semakin tertinggal. Dengan kata lain, tidak akan dicapai ketersediaan energi yang merata di Indonesia.
Jadi, jika ditinjau potensi penyinaran matahari di Indonesia, pemerataan pembangunan hingga ke daerah terpencil, ramah lingkungan, tidak dibutuhkannya infrastruktur yang mahal untuk menyalurkan listrik, tidak bising serta tidak membutuhkan perawatan yang intensif, energi terbarukan yang terbaik untuk Indonesia adalah energi surya.
Energi Surya
Energi surya dimanfaatkan dalam dua bentuk: energi panas dan energi cahaya. Energi panas matahari sendiri sudah dimanfaatkan manusia dari sebelum masehi dan masih berkembang sampai sekarang. Contoh pemanfaatan energi panas matahari yang umum dipakai adalah pengering dalam pertanian, pemanas air, dan penghangat ruangan (Supranto, 2015).
Namun, kunci yang menjawab masalah energi di Indonesia ini ada dalam energi cahaya matahari menggunakan teknologi fotovoltaik. Fotovoltaik atau sering dikenal sebagai sel surya adalah alat yang dapat mengubah energi cahaya menjadi energi listrik. Inilah yang dibutuhkan Indonesia karena energi listrik adalah energi sekunder yang paling sering digunakan. Negara-negara lain di dunia sudah mulai fokus membangun teknologi ini. Dapat dilihat pada gambar berikut bahwa daya hasil fotovoltaik yang terpasang di dunia semakin meningkat secara eksponensial di abad ke-21 ini, jauh lebih cepat dari pemanfaatan energi angin, air, maupun nuklir.

(Smetz, 2016 : 19)
Masalah utama teknologi fotovoltaik ini ada tiga. Yang pertama adalah efisiensi yang masih rendah. Panel surya yang beredar secara komersial di dunia ini, 90% masih menggunakan crystalline-silicon yang efisiensinya hanya sekitar 14-20% (Smetz, 2016 : 18). Bandingkan saja dengan bahan bakar fosil yang pembakarannya mencapai efisiensi 90% (Smetz, 2016 : 11). Padahal, sudah ada sel surya generasi kedua yang menggunakan thin film silicon dan juga sel surya generasi ketiga yang masih sedang diteliti sekarang, dengan efisiensi yang lebih tinggi dan harga yang lebih murah (Smetz, 2016 : 153-154). Kemudian, masalah kedua adalah alat penyimpan energinya. Karena sel surya ini beroperasi pada siang hari, maka diperlukan alat untuk menyimpan energi hasil sel surya tersebut di malam hari. Baterai yang secara efisien menyimpan energi tersebut menggunakan teknologi tinggi yang rumit, sehingga harganya mahal dan Indonesia perlu meningkatkan riset dalam bidang ini sebelum meproduksinya secara mandiri.
Masalah terakhir adalah masalah yang paling utama, yaitu harga. Pada kenyataannya, bahan bakar fosil sampai sekarang masih digunakan bukan hanya karena kurangnya kesadaran masyarakat tentang pemanasan global, tetapi juga karena harganya yang murah dibandingkan dengan energi-energi terbarukan seperti energi matahari (Fanny et al., 2016). Namun, masalah ini sebenarnya semakin hari semakin terselesaikan. Jika melihat trend harga sistem dan modul fotovoltaik seiring berkembangnya sistem fotovoltaik yang terinstall, maka kita dapat optimis harga panel surya akan terus menurun hingga di suatu titik akan lebih murah daripada harga bahan bakar fosil.

(Smetz, 2016 : 18)
Strategi Pengembangan Industri Teknologi Surya di Indonesia
Untuk mengembangkan teknologi fotovoltaik di Indonesia, hal pertama yang perlu dilakukan adalah meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia agar tertarik pada isu energi ini dan memahami bahwa energi suryalah solusinya. Kuncinya ada pada pendidikan di sekolah, sosialisasi-sosialisasi ke masyarakat, serta ikut sertanya peran media cetak dan media elektronik. Dengan tingginya minat tersebut, pelajar dan mahasiswa akan tertarik untuk mengembangkan teknologi fotovoltaik ini. Kemudian, muncul banyak SDM yang handal di bidang ini. Dengan begitu, penelitian lebih lanjut mengenai teknologi surya, baterai penyimpan energinya, kondisi geografi Indonesia, dan karakteristisasi penyinaran matahari di Indonesia akan semakin giat dilakukan.
Dari tingginya minat itu juga, industri-industri swasta yang bergerak di bidang teknologi tenaga surya akan muncul dengan sendirinya. Para investor pun akan mulai tertarik untuk menginvestasikan uangnya ke industri-industri yang berakitan dengan teknologi tenaga surya, Di lain pihak, pemerintah bisa membantu dengan memberikan subsidi. Dengan subsidi, masyarakat dapat memperoleh panel surya dengan harga murah sehingga perekonomian di bidang teknologi surya ini akan mengalir. Hal ini akan menyebabkan industri teknologi surya di Indonesia semakin berkembang. Harga panel surya semakin murah dan semakin sering diproduksi sampai akhirnya bisa menjangkau seluruh daerah Indonesia, termasuk daerah-daerah yang terpencil.
Seperti Elon Musk yang yakin energi surya adalah energi utama dunia di masa depan, saya yakin di masa depan energi surya akan menjadi sumber energi utama di Indonesia . Inilah energi terbarukan yang bisa mencakup seluruh daerah sampai daerah terpencil, tidak bising, tidak membutuhkan biaya perawatan, tidak akan habis, dan ramah lingkungan. Dengan begitu, Indonesia akan menjadi tempat yang lebih nyaman untuk kita tinggali.
Daftar Pustaka
Fanny, Johan. 2016. Kenapa Energi Ramah Lingkungan Belum Luas Digunakan? https://www.zenius.net/blog/12320/energi-ramah-lingkungan-terbarukan; Dikunjungi 12 Agustus 2017.
Foley G. 1990. Global Warming: Who Is Taking the Heat? London: Panos Publications.
Foley G. 1990. Global Warming: Who Is Taking the Heat? London: Panos Publications.
Janaloka. 2015. Potensi Energi Matahari di Indonesia. https://janaloka.com/potensi-energi-matahari-di-indonesia/; Dikunjungi 12 Agustus 2017.
Santosa IDMC. 2016. “Studi Kelayakan Aplikasi Teknologi Energi Surya dan Energi Bayu pada Gedung Komersial” dalam Jurnal Matrix Vol. 6 No. 3, 2016.
Smetz A, et al. 2016. The physics and engineering of photovoltaic conversion, technologies, and system. Cambridge: UIT Cambridge Ltd.
Supranto. 2015. Teknologi Tenaga Surya. Yogyakarta: Global Pustaka Utama.
Vries PD. 2010. Buku Panduan Energi yang Terbarukan. Jakarta : Contained Energy Indonesia.